i-dont-believe_e589afe69cac

tittle : i dont believe in fate

author : misskyungsoo

cast :

D.O kyungsoo, Do Kyuzy (oc), Yumi (oc), all member exo K

genre :

friendship, comedy, family, sad

author note :

DONT COPAS PLEASE

***

HAPPY READING

***

“ya!!! Kenapa kau menjatuhkanku.”

Dengan wajah kagetnya, KyungSoo membantu Baekhyun berdiri.

“kenapa kau bisa jatuh?.” Tanya Soo bingung. Baekhyun hanya memandang wajah innocent KyungSoo dengan menghela nafas panjang.

“sudahlah, kita masuk saja. Pantatku baik-baik saja.” Katanya datar kemudian berjalan memasuki sekolah dan Soo berjalan mengekori Baekhyun.

Soo menghentikan langkahnya, ia merasakan sedikit sesak di dadanya. Bukan karena melihat Nari, tapi ia sedikit kesulitan bernafas. Soo menggenggam erat dasi yang melingkari lehernya dan mencoba membuatnya sedikit longgar. Sedangkan Baekhyun, ia berjalan dan berbicara panjang lebar mengenai kesulitannya mengerjakan soal fisika semalaman suntuk. Karena tidak mendapatkan jawaban dari KyungSoo. Tapi karena tidak ada respon, ia berhenti.

“Soo, kau mendengarku tidak?.” Kemudian menoleh kebelakang punggungnya. Baekhyun kaget saat melihat Soo berada beberapa meter dari tempatnya berdiri.

“YA!!! Jadi kau membiarkanku berbicara sendirian dari tadi!!!!.” Baekhyun kembali dan meNarik tangan KyungSoo, sedangkan Soo. Wajahnya tiba-tiba saja terlihat pucat.

“Soo, kau sakit? Kau kenapa?.” Tanya Baekhyun panik.

“gwenchana, aku terlalu ketat memakai dasi. Rasanya leherku tercekik.” elak KyungSoo, kemudian mulai berjalan dan meNarik tangan Baekhyun agar tidak menaruh curiga padanya.

“seharusnya kau meniru gaya Suzy, kulihat dia tidak pernah mengenakan dasi.” Baekhyun terkekeh.

“aku bukan Suzy.” Kedua titik hitam itu menatap Baekhyun tajam.

Baekhyun hanya menelan ludah yang kemudian tersenyum masam menanggapinya.

“baiklah, aku mengerti.”

KyungSoo menatap kosong pada buku yang ia pegang. Ia sedang berdiri didepan kelasnya sembari membaca buku dan sesekali memandangi teman-temannya yang sedang asyik bermain di halaman sekolah.

Kedua mata lebarnya menatap Nari yang sedang berjalan dan duduk bergabung dengan teman-temannya ditaman, tepat dibawah tempat KyungSoo berdiri.

“aku tidak tau kenapa aku tidak bisa mengerjakan soal-soal ini dengan baik, padahal aku sudah belajar dengan keras.” Baekhyun menatap hasil lembaran ulangannya kemarin. Terlalu banyak garis merah yang ia dapatkan.

“apa otakku sebodoh itu.” Sekali lagi ia berharap mendapat jawaban dari KyungSoo tapi KyungSoo sama sekali tak memperdulikannya. Baekhyun menoleh, memperhatikan wajah KyungSoo yang  terpaku dengan sesuatu dibawah mereka.

“ahh… jadi kau memperhatikan dia? Begitu ya orang sedang jatuh cinta, sekalipun tak memperdulikan temannya bicara.” Celetuk Baekhyun. KyungSoo menoleh.

“aku dengar apa yang kau katakan.” Balas KyungSoo. Baekhyun menyeringai.

“yah, cho Nari. Kelas D dan dia merupakan pelanggan tetap perpustakaan. Dia tinggal bersama dengan keluarga lengkapnya, ayah ibu dan adiknya. Tingginya hanya 150an, dan usianya sama dengan kita. Dia mengikuti berbagai macam kursus termasuk ballet, piano dan biola. Dia pandai sekali berbahasa inggris, nilainya sangat dikagumi guru kim. Cita-citanya menjadi seorang dokter, karena adiknya tengah sakit sekarang. Dan…” KyungSoo ternganga. Kaget.

“dari mana kau tau soal itu?.”

“hey, dia tetanggaku, jelas saja aku tau. Ibunya sangat akrab dengan ibuku. Mereka berdua sering menggosipkan sesuatu saat bersama. Aku tau karena aku sering menguping pembicaraan mereka.”  KyungSoo kembali menatap sesosok yeoja yang dikaguminya sedang mengumbar tawa bersama dengan teman-temannya.

“ah, jadi begitu.” Gumam Soo.

“hanya itu? Aku minta bayaran, traktir aku makan.” Mereka berdua bertatapan, Baekhyun menunjukkan wajah termanisnya pada Soo. Tapi Soo hanya membalas dengan tatapan datar dan berjalan menuju tempat yang Baekhyun harapkan.

***

Suzy menggembungkan pipinya. Kini ia sedang menatap sebuah lembaran kertas putih dengan corak merah. Berkali-kali ia menghela nafas  panjang. Entah bagaimana ia harus menyampaikan lembaran itu kepada eomma dan appa nanti.

Yumi menatap prihatin. Yah, memang seharusnya begitu. Suzy harus berubah agar mendapat nilai bagus dan bisa naik kelas.

“bagaimana menurutmu?.” Yumi menggembungkan pipinya sambil menggelengkan kepala. Kemudian disusul dengan mengangkat kedua tangannya.

“tapi setidaknya nilai bertambah 10 point. Dari 40 menjadi 50. Yah, tidak cukup buruk.” Suzy menyeringai, dengan gemas Yumi memukul dahi temannya itu.

“kau bercanda. Bagaimana dengan Soo? Dia selalu mendapat nilai bagus. Kau tidak merasa malu dengannya?.” Suzy dengan enteng menggelengkan kepalanya. Kemudian kembali meraih komik yang ada dilaci mejanya.

“hentikan Suzy, bukan saatnya kau membaca komik disaat seperti ini.”

“kenapa?.”

“aku mengkhawatirkanmu. Araseo?.” Suzy tertegun. Ia menatap wajah gelisah Yumi.

“kalau kita masuk kelas ini sama-sama, kita juga harus keluar sama-sama.” Kata Yumi lirih, hampir tak terdengar.

Seketika itu dada Suzy menjadi sesak. Genangan air mata Yumi yang tertahan siap meluncur kapan saja. Suzy kembali menutup bukunya.

“aku akan berubah. Aku akan belajar.” Balas Suzy. Ia menepuk pundak Yumi pelan.

“bohong, kau dulu juga bilang begitu.” Suzy membisu. Sekalipun ia tak pernah belajar.

“aku akan berusaha. Aku masih tidak bisa janji padamu, tapi aku akan mencobanya.”

Yumi menyeka air matanya. Kemudian kembali duduk dibangkunya, tepat disamping kanan Suzy duduk.

“apa kau mengenal Nari?.” Celetuk Suzy menglihkan pembicaraan setelah teringat janjinya dengan Soo.

“cho Nari maksudmu?.” Suzy mengangguk yakin.

“tidak banyak yang kuketahui tentangnya, untuk apa kau menanyakan dia?.”

“ahh, kau tau. Aku sangat kesal dengannya, dia sombong sekali.”

Yumi terheran. Ia kembali menatap ragu pada mata Suzy. Tergambar jelas sedikit kebohongan disana, kemudian Yumi tersenyum. Bertemu dengan Nari saja tidak pernah, Suzy dengan seenak lidahnya mengatakan Nari sombong.

“begitu ya, kalau begitu kita labrak dia sama-sama.” Ajak Yumi penuh semangat.

“ah, untuk apa? Itu hanya akan membuang-buang waktu.” Suzy kembali duduk tenang, ia mencoba meraih buku pelajaran yang ia bawa. Tapi, tasnya kosong.

***

“Soo…” kata Yumi serak. Ia kini tengah berdiri mematung dihadapan KyungSoo. Soo hanya menatap datar tanpa menggerakkan bibirnya sekalipun pada Yumi.

Yumi menjadi semakin gugup. Ia sudah berusaha memberanikan diri untuk bertemu langsung dengan KyungSoo. Tak ada tujuan lain, Yumi hanya ingin menyampaikan soal Suzy padanya. Kali ini ia tidak berniat untuk mencari kesempatan bertemu dengan Soo.

“maaf aku menganggumu.” Yumi membungkukkan tubuhnya 90 derajat sebagai tanpa permintaan maafnya pada KyungSoo. KyungSoo mulai menutup bukunya.

Baekhyun, yang berada digedung atas. Memperhatikan gerak gerik mereka berdua.

“hah, coba lihat apa yang sedang terjadi.”  Kata Baekhyun lirih.

“ada apa?.” Kata Soo ketus. Ia paling tidak suka saat sedang asyik membaca ada yang mengganggu.

“aku hanya ingin menyampaikan soal Suzy padamu.” Yumi masih menatap tanah tempatnya berdiri.

“kenapa dengan dia?.”

“nilainya, kau tau nilai Suzy tidak pernah mengalami peningkatan? Aku hanya ingin kau membantunya.” Kata Yumi hati-hati.

“lalu aku harus bagaimana? Menberinya les sepulang sekolah? Menjadi tutor pribadinya, begitu? Percuma saja.” Soo mulai menatap wajah Yumi. Yumi mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari KyungSoo.

“bukan, biarkan dia belajar sendiri.” Suara Yumi semakin serak.

“dengan cara bagaimana? Memegang buku pelajaran saja dia tidak pernah.”

“bohongi dia.” Yumi mencoba mengangkat kepalanya.

“kenapa kau begitu mengkhawatirkannya, dia sendiri tidak peduli dengan nilainya.” Gertak KyungSoo.

“aku tau.” Yumi meNarik nafas panjang. “tapi kau tak tau kalau aku sangat peduli dengan adikmu, dia temanku, sahabatku. Aku sangat menyayanginya. Aku khawatir dengan ujian semester yang akan datang. Kau jelas tau maksudku.” Yumi terdiam. KyungSoo pun kehilangan kata-kata.

“baiklah, aku harus bagaimana?.” Yumi menatap KyungSoo kaget. Kemudian mulai tersenyum dan menjelaskan misi yang sudah ia pikirkan kepada KyungSoo dengan detail. KyungSoo mencoba memahami dan akan mencoba mempraktekkannya pada adiknya nanti.

“hah, apa yang mereka bicarakan. Kenapa menjadi serius begitu.” Gerutu Baekhyun kesal. Ia mencoba memperhatikan lebih seksama lagi kejadian yang ada dibawah karena memang suara mereka tidak sampai terdengar dari atas.

“hei, mana Soo?.” Suzy menepuk pundak Baekhyun dan membuatnya terjingkat kaget.

“kenapa kau mengagetkanku.” Teriak Baekhyun kesal tepat didepan wajah Suzy.

“kau lebih mengagetkanku jika seperti itu.” Suzy mengelus dadanya.

“kau mencari Soo?.” Suzy mengangguk. Kemudian Baekhyun memegangi kepala Suzy dan menundukkannya kebawah.

“apa yang kau…” kedua mata lebar Suzy merasakan surprise saat melihat kejadian langkah di taman sekolah.

“hey, apa itu sebuah kebetulan?.” Baekhyun melepaskan tangannya.

“tidak, kejadian itu disengaja.” Suzy mengerutkan keningnya.

“aku melihat sendiri, temanmu itu mendatangi KyungSoo. Seperti ada sedikit perkembangan.” Baekhyun terkekeh. Suzy tersenyum.

“ya, jika Nari bukanlah gadis yang Soo inginkan.”

Baekhyun menatap Suzy yang masih memperhatikan kakaknya. Kedua matanya terbelalak.

“jadi Soo benar-benar menyukai Nari?.” Suara Baekhyun terdengar kaget.

“kau ini bodoh atau apa? Ha?.” Suzy mengangkat alisnya dan menatap Baekhyun heran. Kemudian mereka berdua dengan seksama memperhatikan lagi dan.. Soo dan Yumi sudah menghilang.

“kemana mereka berdua pergi.” Baekhyun dan Suzy mencari-cari. Kedua mata mereka menerka-nerka keberadaan Soo dan Yumi.

“apa yang kalian lakukan?.” Suzy dan Baekhyun menoleh. Namja berwajah dingin itu tengah berdiri dibalik punggung mereka. Seketika Suzy dan Baekhyun terkesiap. Dengan spontan mereka tersenyum janggal melihat tatapan mematikan dari mata Soo.

“aku mencarimu.” Ujar Suzy spontan.

***

Suzy berjalan lebih dulu dibanding Soo dan Baekhyun. Yumi akan menyusul setelah Chanyeol datang menjemput. Suzy menghentikan langkahnya. Ia melihat suho berjalan menuntun sepedanya keluar sekolah sendirian. Hatinya menjadi muram.

Soo dan Baekhyun ikut memperhatikan. Terdengar helaan nafas Suzy, Soo menoleh. Kemudian ia berjalan dan sengaja menabrak lengan Suzy agar bangun dari lamunannya.

“ya, dia namja yang tampan.” Ujar Soo. Suzy terbelalak kaget.

“kalian berdua ini saudara yang aneh.” Gumam Baekhyun kemudian menyusul KyungSoo.

Sebuah mobil bercat hitam merk Porsche 911 berhenti didepan sekolah. Kemudian seorang namja tinggi dengan senyuman yang menawan itu turun. Kini rambutnya tidak keriting lagi. Rambut pirang lurus dan yang pasti membuat wajahnya semakin tampan menjadi pusat perhatian yeoja SMA yang baru saja keluar dari sekolah untuk bergegas pulang.

Suzy terbelalak melihat pemilik mobil antic itu melambaikan tangan pada dirinya. Soo dan Baekhyun terlihat kebingungan.

“hey, apa itu namjachingu Suzy?.” Tanya Baekhyun heran.

Soo menggelengkan kepalanya dengan bibir agak terbuka.

“ya!! Kita tidak punya banyak waktu lagi.” Yumi datang dengan berlari dan segera meraih tangan Suzy. Soo dan Baekhyun masih berjalan tenang.

“mana kakakmu?.” Tanya Chanyeol. Kedua matanya mencoba mencari-cari keberadaan KyungSoo yang belum pernah ia ketahui sebelumnya. Sedangkan KyungSoo hanya berada beberapa meter dari tempatnya berdiri.

“Soo? Apa maksudnya Soo?.” Yumi terkaget. Suzy menganggukkan kepalanya dan mulai menatap KyungSoo agar berjalan lebih cepat.

“ah, kau ternyata orangnya. Kau lebih mungil dari yang kubayangkan.” Baekhyun terkekeh. Kemudian terdiam saat Soo menatapnya.

Mereka berempat masuk mobil, termasuk Baekhyun sebagai tamu yang tak diundang memaksakan dirinya untuk ikut.

“siapa namamu?.” Baekhyun memecah keheningan didalam mobil.

“Park Chanyeol, yah aku Park Chanyeol tapi cukup kau panggil aku Chanyeol.”

“kau lebih tua dariku, sepertinya. Aku memanggilmu hyung saja.”

“ah, kau terlalu sungkan. Kita ini teman.”

“hahhaah, ya tentu. Hey, aku sangat menyukai mobil anehmu ini. Hahahaha.”

KyungSoo dan Suzy menatap Baekhyun bebarangan. Baekhyun mengerjapkan kedua matanya melihat hal itu.

“ahahhaaa, ini bukan mobil aneh. Ini mobil antic dari jerman tahun 90-an.” Jelas Chanyeol.

“hahaha, ya seharusnya aku tau soal itu.”

“emm, siapa namamu?.”

“Baekhyun. Byun Baekhyun.”

“ah, senang sekali bertemu denganmu.”

“aku juga.”

Hening.

Mereka semua tediam didalam mobil..

“hey, kenapa bukan kau saja yang diduduk dibelakang?.” Bisik Chanyeol pada Yumi. Soo memperhatikan.

Kemudian Yumi menoleh, melihat keadaan dikursi kedua mobil Chanyeol. Soo terlihat jelas menatap dirinya dengan kedua mata bulatnya yang terlihat datar. Yumi menunduk, mengalihkan pandangannya kebawah dan semakin dalam. Kemudian kembali menghadap kedepan.

“tidak mungkin aku duduk dibelakang.” Balasnya lirih dan Chanyeol tidak mendengarnya.

“kenapa Yumi bisa ikut?.” Soo berbisik pada pada Suzy yang ada disamping kirinya.

“Chanyeol dan Yumi adalah teman. Aku mengenalnya dari Yumi.”

“kapan kalian bertemu?.”

“baru saja kemarin. Kami bertemu dicafe.” Jawab Suzy polos.

“jadi kau berbohong.” Suzy menoleh. “kalian bilang kalian sedang ada tugas kelompok dan mengerjakannya dirumah Yumi.” Suzy tercengang. Ia kehilangan kata-kata.

“ya, setelah kami belajar kelompok tentunya.” Sahut Yumi. Dan Soo menatap tajam pada Suzy. Suzy hanya melempar pandangannya keluar jendela mobil.

“apa yang kalian bicarakan?.” Tanya Baekhyun penasaran.

“tidak ada.” Jawab Soo dan Suzy bebarengan.

“kalian kompak sekali ya.” Chanyeol menyeringai.

Sampailah mereka kesebuah gedung studio band. Tempatnya tidak terlalu besar tapi cukup bagus. Chanyeol menjelaskan bahwa gedung itu milik bandnya pribadi, itu adalah hasil kerja kerasnya bersama dengan dua namja yang sedang menunggu didalam.

Chanyeol membuka pintu. Disana dua orang namja sedang menunggu dan berlatih dengan alat musiknya masing-masing. Baekhyun terbelalak takjub melihat isi gedung yang terlihat kecil dari luar tetapi begitu luas dalamnya. Ia melihat sebuah drum, studio rekaman pribadi dan gitar.

Perlahan ia melangkahkan kakinya masuk begitu juga dengan yang lain. Soo tampak tenang-tenang saja, Suzy memperhatikan isi keseluruhan ruang itu dengan mata yang berbinar.

daebak. Apa ini juga termasuk kalian sendiri yang merancangnya.” Ujar Suzy sembari mengamati.

“ne, kami sendiri yang merancangnya. Bagaimana menurutmu bung?.” Chanyeol menatap KyungSoo.

not bad.” Jawabnya singkat.

“ah… begitu ya.” Chanyeol mangut-mangut. “ perkenalkan, mereka berdua adalah bagian dari band ini.” Dua orang namja berdiri. Yang satu meletakkan gitar bassnya dan yang satunya lagi bangun dari kursi drumnya.

Soo membungkukkan badannya. Begitu juga kedua namja yang ada dihadapannya.

anyeonghaseyo, Sehun imnida.”

anyeonghaseyo, KyungSoo imnida.” Balas Soo, kemudian disusul dengan Suzy dan Baekhyun memperkenalkan diri. Yumi sudah cukup akrab dengan mereka.

anyeonghaseyo, Kai imnida.” Kai menyeringai. Kini ia sedang menatap jahil Suzy yang  berdiri tepat disamping Soo. Menyadari hal itu, Suzy langsung menyembunyikan dirinya dibalik punggung Soo.

“ini dia, orang yang akan bergabung dengan kita. Sebelumnya, kami ingin mendengar seperti apa suaramu?.” Ucap Chanyeol seraya menyerahkan microfon pada Soo.

“baiklah, aku mengerti.”

“kau bisa menyanyikan lagu apa?.” Celetuk Kai sembari memainkan stik drumnya.

“aku bisa menyanyikan segala jenis lagu.”

Sehun terkekeh menyepelekan, begitu juga dengan Kai. Kemudian Chanyeol berdehem dan memulai latihan pertama mereka bersama Soo.

Soo masih berdiri mematung sekalipun music sudah terdengar kencang. Suzy tiba-tiba merasa khawatir.

My babe, baby babe, baby baby
Nolaraboneungol
Ige sarangingolga
Aichorom nol jaju utgemandeulgo
Chingguchorom nol gajang pyonhage mandeulkkoya
My babe, baby babe, baby baby
Marhejwo nege What Is Love?

Suara Soo menggema. Suara yang lembut dan halus bak sutra. Suzy berjingkrak-jingkrak kegirangan saat melihat Ketiga namja itu menelan ludah mereka masing-masing. Yumi bertepuk tangan dan baekhyun mengacungkan kedua jempolnya. Chanyeol dengan posisi mulut ternganga kagum dan Sehun yang berhenti memetik gitarnya. Kai, ia tercengang sembari membelalakkan kedua matanya.

Chanyeol, kai dan sehun mengerjapkan mata mereka bebarengan kemudian sekali lagi menelan ludah. KyungSoo membungkukkan badannya, mengakhiri lagu yang ia nyanyikan dengan penghormatan. Suzy, baekhyun dan yumi berdiri sembari memberikan tepuk tangan.

“uwahhh, aku benar-benar suka dengan suaramu. Sungguh.”. Chanyeol mendekat dan menepuk pundak KyungSoo.

“bagaimana? Apa kakakku masuk nominasi.” Suzy tampak begitu bersemangat.

“ah, tentu saja.” Balas Chanyeol.

“suaramu bagus, aku menyukainya.” Sehun tersenyum.

“apa temanku juga boleh bergabung. Baekhyun memiliki suara yang khas.”

Baekhyun memelototkan matanya. Ketiga namja itu kini beralih menatap Baekhyun tajam.

“hey, apa yang kau katakan. Aku tidak bisa bernyanyi.” Soo berjalan mendekati Baekhyun dan menyerahkan microfonnya ketangan Baekhyun.

Dengan malu-malu ia berdiri dan mencoba untuk bernyanyi.

Serasa tenggorokan mereka tercekat. Suara tinggi Baekhyun membuat mereka tidak bisa mengatakan apa-apa. Chanyeol semakin tersenyum sumringah, kini ia tidak usah susah payah lagi mencari personel karena ada dua personel datang dengan sendirinya.

“hwa…..” Chanyeol bertepuk tangan. “kita akan bekerja dengan baik. Tidak perlu banyak latihan lagi, aku rasa kalian mampu memenuhinya. Minggu depan, kita berangkat kedapur rekaman yang sebenarnya.” Baekhyun dan KyungSoo tersenyum lebar. Untuk pertama kalinya Yumi melihat senyum manis KyungSoo.

***

“kau berhasil. Kau berhasil.” Suzy melompat kegiraan sembari memeluk KyungSoo.

“cepat lepaskan.” Kata KyungSoo datar.

“ahh, baiklah… aku akan menceritakan soal Nari padamu.”

“tidak usah, aku sudah mengetahui semuanya.”

“apa?.” Suzy terbelalak.

“kau terlambat. Sebagai hukumannya dengarkan aku.”

“tidak mau.” Suzy menggelengkan kepalanya. Soo langsung memegang tangan Suzy erat.

“aku tadi bertemu dengan suho.” Suzy langsung berhenti memberontak.

jinjja, dimana?.”

“soal itu kau tak perlu tau. Dia juga menyukaimu sebenarnya.”

“ah benarkah????.” Kemudian Suzy menaruh curiga pada KyungSoo. “kau berbohong.”

aniyo, aku tidak berbohong. Hanya saja kau gadis yang kurang pintar, sebab itulah suho tidak mau mengungkapkan perasaannya padamu. Ia menunggu kau berubah terlebih dahulu.” Suzy tertegun.

“akan kubantu kau belajar. Kau tidak mungkin menyia-nyiakan kesempatan ini kan?.” KyungSoo menatap Suzy meyakinkan. Suzy terlihat bingung.

“kau yakin kau tidak sedang berbohong?.” Soo menggelengkan kepalanya.

“baiklah, aku akan berusaha. Untuk suho, untuk menjadi yeojachingu Suho… KYAAAAAAA…” Suzy berlari masuk kedalam rumah dengan kegirangan. Soo hanya tersenyum smirk.

“bodoh, kau memang terlalu bodoh.”

***

Suzy memperhatikan sepedanya. Kemudian ia berteriak memanggil appa dan KyungSoo untuk keluar.

“ada apa?.” Tanya appa sembari berlari kecil. KyungSoo membawa tasnya dan siap berangkat ke sekolah.

“sepadaku.” Gerutu Suzy.

waeyo?.” KyungSoo datang mendekat.

“rusak.” Jawab Suzy singkat.

“hhahaa, ini hanya ban bocor. Kita bisa menambalnya dan bisa kau pakai lagi.” Sahut appa.

“tapi ini rusak appa.”

“hanya ban bocor.” Celetuk KyungSoo.

“tapi tidak bisa dipakai kan? Berarti rusak.”

Appa tertawa dan KyungSoo hanya menatap Suzy kesal.

“biar aku berangkat bersama dengan sepeda Soo saja appa.”

“yah, sepulang sekolah nanti sepedamu sudah bisa dipakai lagi.”

“siapa juga yang mau memboncengmu. Berjalanlah sendiri.” Sahut KyungSoo ketus.

“apa kau tega membiarkanku berjalan sendirian pergi ke sekolah. Tentu saja tidak.” Belum sempat KyungSoo menjawab tapi Suzy sudah menjawab pertanyaannya sendiri.

“naiklah!”

Suzy naik. Ia berdiri dibelakang punggung KyungSoo dan berpegangan pada kedua pundak Soo.

“sepulang sekolah nanti, kau ada latihan dengan bandmu?.”

ne, aku sudah minta izin pada eomma.”

“dengan Baekhyun?.”

“memangnya dengan siapa lagi?.”

“kalau begitu sepedamu ini biar aku pakai.”

“memangnya kau akan meninggalkannya di sekolah.”

“ikkkksss, kau.” Suzy menjambak rambut KyungSoo.

“sekali lagi kau melakukannya, kau akan kuturunkan sekarang juga.” Suzy terkekeh.

mianhae, oppa.” Balas Suzy.

Soo tersentak kaget, mendengar panggilan yang terasa asing ditelinganya dan tak pernah Suzy katakan padanya. Soo tersenyum.

Sesampainya mereka di sekolah. Semua mata tertuju pada mereka, tak biasanya mereka seakrab ini. Yumi dan Baekhyun memperhatikan. Kebetulan mereka sampai disekolah pada waktu yang sama.

Suzy melambaikan tangannya pada Baekhyun dan Yumi, kemudian berlari kecil menghampiri mereka.

“kalian tidak sedang sakit kan?.” Baekhyun mengangkat sebelah alisnya. Suzy tersenyum kemudian menggelengkan kepala dan mengajak Yumi masuk kelas.

“Soo, aku disini…” Baekhyun melambaikan tangannya. Soo sudah tau Baekhyun berdiri menunggunya disitu.

“nanti kita latihan kan?.” Baekhyun meletakkan tangannya dipundak KyungSoo.

“ehem.”

“bagaimana menurutmu? Mereka cukup menyenangkan bukan? Menurutku sih begitu.” Ucap Baekhyun.

aniyo, hanya Chanyeol yang ramah. Kai, aku kurang menyukainya.” Sahut Soo.

“hahaha, dia memang sedikit angkuh menurutku. Mungkin karena kita belum terlalu mengenalnya.” Baekhyun tersenyum.

“aku harap juga begitu. Dia terlalu meremehkan kita.” Lanjut Soo.

“hahahaha, kau benar sekali.”

Suzy mengeluarkan seluruh buku pelajaran yang ia bawa. Dan menaruhnya di laci bangkunya. Yumi tercengang kaget. Kedua matanya terbelalak memperhatikan sahabatnya yang sedikit aneh hari ini.

Yumi datang menghampiri bangku Suzy. Ia menempelkan tangannya ke dahi Suzy.

“apa yang kau lakukan?.” Suzy melongo.

“kau tidak sedang sakit kan?.”

“ah, aku kan sudah bilang padamu aku akan belajar.” Yumi mangut-mangut.

“ini karena seseorang.” Suzy menyeringai. Dan Yumi tersenyum, ternyata permintaannya dipenuhi oleh KyungSoo.

“aku sangat mendukungmu.”

“tentu, kau harus mendukungku.” Suzy terlihat begitu bersemangat. Hari ini wajahnya sangat sumringah.

Saat jam pulang sekolah tiba. Suzy datang ke parkiran sekolah bersama Yumi untuk mengambil sepeda milik Soo dan membawanya pulang.

“aku yang bonceng.” Tawar Suzy.

“rumahku dekat. Aku bisa berjalan kaki.”

“hey, kau ini. Dari pada kau sendirian kan lebih baik aku bonceng pulang.”

“ah, baiklah. Jangan melototiku seperti itu.”

Mereka berjalan menuntun sepeda sampai keluar gerbang. Soo dan Baekhyun sudah dijemput oleh Chanyeol  sebelum bel sekolah berdering. Suzy tertegun. ia berhenti tanpa aba-ba sampai membuat Yumi yang berada dibelakangnya menabrak tubuhnya. Mereka berdua terpaku. Kini wajah muram Suzy tergambar jelas.

“Soo berbohong. Dia berbohong padaku.” Yumi menatap Suzy prihatin. Ia juga merasa menyesal.

to be continue~